⚠️

Peringatan Pemicu

Konten ini memuat deskripsi eksplisit mengenai penyiksaan seksual dan femisida atau pembunuhan terhadap perempuan. Harap pertimbangkan kondisi Anda sebelum melanjutkan.

Logo Konde

Ita Martadinata
Haryono

9 Oktober 1998 · Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta

Peringatan Konten Eksplisit
Gulir
Latar Tempat

Rumah di Sumur Batu,
Kemayoran

Rumah keluarga Ita Martadinata Haryono di kawasan Sumur Batu, Kemayoran, pada akhir 1990-an. Bangunan dua lantai itu milik keluarga suami-istri Leo Haryono dan Wiwin Suryadinata yang memiliki usaha mebel di kawasan Klender.

Di lantai bawah terdapat ruang tengah yang menyatu dengan meja makan, sementara sebuah tangga di sisi rumah mengarah ke lantai atas. Di lantai dua terdapat kamar kecil bercat merah muda milik Ita.

Rumah keluarga Ita di Sumur Batu
Jumat Sore

Fatia Nadia
Memasuki Rumah

Ita Fatia Nadia melangkah memasuki rumah itu pada Jumat sore. Ia masih mengingat ruang tengah yang menyatu dengan meja makan, tempat Wiwin Suryadinata, Leo Haryono, Sandyawan Sumardi, dan salah seorang wartawan Kompas berada.

Di sofa duduk kakak Ita, Happy Suryadinata. Setelah beberapa saat, orang tua Ita hanya berkata singkat kepadanya:

"Ke atas."

Dari ruang itulah tangga menuju lantai dua terlihat, menjadi jalan menuju pemandangan yang terus membekas dalam ingatan Fatia Nadia.

Rekonstruksi suasana rumah
Rekonstruksi kamar Ita
Di Lantai Atas

Kamar Merah Muda

Di lantai atas, Fatia Nadia memasuki kamar kecil bercat merah muda milik Ita Martadinata Haryono. Darah masih menggenang di lantai. Tubuhnya terbaring miring sehingga langsung terlihat begitu pintu dibuka.

Lehernya disayat sangat dalam hingga nyaris terpenggal. Di tubuhnya terdapat sepuluh luka tusuk di bagian dada, lengan, dan perut.

Kondisi Kamar

Kamar Merah Muda

Blouse yang dikenakannya masih tampak utuh meski tubuhnya dipenuhi luka tusuk, sedangkan celana pendek bermotif bunga-bunga kecil berada di sisi lain kamar. Bantal terlempar dari atas kasur.

Saat Ita datang, poster-poster masih menempel di dinding seperti kamar remaja pada umumnya. Ada meja belajar dan kursi di dekat pintu, juga cermin dan kosmetik yang masih tertata.

Detail kamar Ita
Fatia Nadia turun dari tangga
Kepulangan

Kaki yang Seperti Tidak
Menjejak Lantai

Fatia Nadia turun kembali melewati tangga rumah itu. Kakinya terasa tidak menjejak lantai. Di ruang tengah, Wiwin Suryadinata menatapnya dan bertanya lirih,

"Sudah lihat?"

Fatia Nadia menjawab pendek, "Sudah."

Romo Sandyawan kemudian menyusul, "Sudah lihat belakangnya?"

Fatia Nadia tidak sanggup menjawab.

Sesampainya di kantor, tubuhnya terasa seperti orang yang hendak pingsan.

Setelah 9 Oktober 1998

Rumah yang
Kembali Sunyi

Lewat dari sebulan, rumah dua lantai di Sumurbatu itu kini kembali sunyi setelah keramaian polisi, warga, dan wartawan menghilang.

Leo Haryono dan Wiwin Suryadinata kala itu berniat menghibahkannya kepada komunitas Buddha sebelum Wiwin melanjutkan hidup sebagai bhikuni.

Sejak Ita Martadinata dibunuh di kamarnya pada 9 Oktober, keluarga itu tak hanya kehilangan anak bungsu mereka, tetapi juga kehilangan tenang kehidupan-penghidupannya.

Dokumentasi
Tentang Konten Ini

Rekonstruksi
Ita Martadinata

Rekonstruksi ini disadur dari kesaksian Ita Fatia Nadia. Perbedaan versi kesaksian seperti kondisi Ita Martadinata kala itu bisa saja terjadi seiring perbedaan waktu.

Dokumentasi Data dan Interaktif: Luthfi Maulana Adhari / Konde.co